MOHON MAAF DI TUJUKAN KEPADA PENGUNJUNG BLOG INI. UNTUK SEMENTARA INI BLOG INI DALAM MASA PERBAIKAN.... TERIMA KASIH, atas KEMALKUMAM PENGUNJUNG.....
save your life.... HIV /AIDS MUSUH BERSAMA, DUTA HIV TEMAN SETIA....
Diposting oleh DUTA HIV Selasa, 07 April 2009 di 19.00.00
MOHON MAAF DI TUJUKAN KEPADA PENGUNJUNG BLOG INI. UNTUK SEMENTARA INI BLOG INI DALAM MASA PERBAIKAN.... TERIMA KASIH, atas KEMALKUMAM PENGUNJUNG.....
Diposting oleh DUTA HIV Minggu, 25 Januari 2009 di 04.22.00
Sampai kini, mendengar kata HIV/AIDS seperti momok yang mengerikan. Padahal jika dipahami secara logis, HIV/AIDS bisa dengan mudah dihindari. Bagaimana itu?
Prevalensi HIV/AIDS di Indonesia telah bergerak dengan laju yang sangat mengkhawatirkan. Pada tahun 1987, kasus HIV/AIDS ditemukan untuk pertama kalinya hanya di Pulau Bali. Sementara sekarang (2007), hampir semua provinsi di Indonesia sudah ditemukan kasus HIV/AIDS.
Permasalahan HIV/AIDS telah sejak lama menjadi isu bersama yang terus menyedot perhatian berbagai kalangan, terutama sektor kesehatan. Namun sesungguhnya masih banyak informasi dan pemahaman tentang permasalahan kesehatan ini yang masih belum diketahui lebih jauh oleh masyarakat.
HIV adalah virus penyebab AIDS. HIV terdapat dalam cairan tubuh seseorang seperti darah, cairan kelamin (air mani atau cairan vagina yang telah terinfeksi) dan air susu ibu yang telah terinfeksi. Sedangkan AIDS adalah sindrom menurunnya kekebalan tubuh yang disebabkan oleh HIV. Orang yang mengidap AIDS amat mudah tertular oleh berbagai macam penyakit karena sistem kekebalan tubuh penderita telah menurun.HIV dapat menular ke orang lain melalui :
* Hubungan seksual (anal, oral, vaginal) yang tidak terlindungi (tanpa kondom) dengan orang yang telah terinfeksi HIV.
* Jarum suntik/tindik/tato yang tidak steril dan dipakai bergantian
* Mendapatkan transfusi darah yang mengandung virus HIV
* Ibu penderita HIV Positif kepada bayinya ketika dalam kandungan, saat melahirkan atau melalui air susu ibu (ASI)
Penularan
HIV tidak ditularkan melalui hubungan sosial yang biasa seperti jabatan tangan, bersentuhan, berciuman biasa, berpelukan, penggunaan peralatan makan dan minum, gigitan nyamuk, kolam renang, penggunaan kamar mandi atau WC/Jamban yang sama atau tinggal serumah bersama Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). ODHA yaitu pengidap HIV atau AIDS. Sedangkan OHIDA (Orang hidup dengan HIV atau AIDS) yakni keluarga (anak, istri, suami, ayah, ibu) atau teman-teman pengidap HIV atau AIDS.
Lebih dari 80% infeksi HIV diderita oleh kelompok usia produktif terutama laki-laki, tetapi proporsi penderita HIV perempuan cenderung meningkat. Infeksi pada bayi dan anak, 90 % terjadi dari Ibu pengidap HIV. Hingga beberapa tahun, seorang pengidap HIV tidak menunjukkan gejala-gejala klinis tertular HIV, namun demikian orang tersebut dapat menularkan kepada orang lain. Setelah itu, AIDS mulai berkembang dan menunjukkan tanda-tanda atau gejala-gejala.Tanda-tanda klinis penderita AIDS :
1. Berat badan menurun lebih dari 10 % dalam 1 bulan
2. Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
3. Demam berkepanjangan lebih dari1 bulan
4. Penurunan kesadaran dan gangguan-gangguan neurologis
5. Dimensia/HIV ensefalopati
Gejala minor :
1. Batuk menetap lebih dari 1 bulan
2. Dermatitis generalisata yang gatal
3. Adanya Herpes zoster multisegmental dan berulang
4. Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita
HIV dan AIDS dapat menyerang siapa saja. Namun pada kelompok rawan mempunyai risiko besar tertular HIV penyebab AIDS, yaitu :
1. Orang yang berperilaku seksual dengan berganti-ganti pasangan tanpa menggunakan kondom
2. Pengguna narkoba suntik yang menggunakan jarum suntik secara bersama-sama
3. Pasangan seksual pengguna narkoba suntik
4. Bayi yang ibunya positif HIV
HIV dapat dicegah dengan memutus rantai penularan, yaitu ; menggunakan kondom pada setiap hubungan seks berisiko,tidak menggunakan jarum suntik secara bersam-sama, dan sedapat mungkin tidak memberi ASI pada anak bila ibu positif HIV. Sampai saat ini belum ada obat yang dapat mengobati AIDS, tetapi yang ada adalah obat untuk menekan perkembangan virus HIV sehingga kualitas hidup ODHA tersebut meningkat. Obat ini harus diminum sepanjang hidup.
Skrining Dengan Teknologi Modern
Sebagian besar test HIV adalah test antibodi yang mengukur antibodi yang dibuat tubuh untuk melawan HIV. Ia memerlukan waktu bagi sistim imun untuk memproduksi antibodi yang cukup untuk dideteksi oleh test antibodi. Periode waktu ini dapat bervariasi antara satu orang dengan orang lainnya. Periode ini biasa diseput sebagai ‘periode jendela’. Sebagian besar orang akan mengembangkan antibodi yang dapat dideteksi dalam waktu 2 sampai 8 minggu. Bagaimanapun, terdapat kemungkinan bahwa beberapa individu akan memerlukan waktu lebih lama untuk mengembangkan antibodi yang dapat terdeteksi. Maka, jika test HIV awal negatif dilakukan dalam waktu 3 bulan setelah kemungkinan pemaparan kuman, test ulang harus dilakukan sekitar 3 bulan kemudian, untuk menghindari kemungkinan hasil negatif palsu. 97% manusia akan mengembangkan antibodi pada 3 bulan pertama setelah infeksi HIV terjadi. Pada kasus yang sangat langka, akan diperlukan 6 bulan untuk mengembangkan antibodi terhadap HIV.
Tipe test yang lain adalah test RNA, yang dapat mendeteksi HIV secara langsung. Waktu antara infeksi HIV dan deteksi RNA adalah antara 9-11 hari. Test ini, yang lebih mahal dan digunakan lebih jarang daripada test antibodi, telah digunakan di beberapa daerah di Amerika Serikat.
Dalam sebagian besar kasus, EIA (enzyme immunoassay) digunakan pada sampel darah yang diambil dari vena, adalah test skrining yang paling umum untuk mendeteksi antibodi HIV. EIA positif (reaktif) harus digunakan dengan test konformasi seperti Western Blot untuk memastikan diagnosis positif. Ada beberapa tipe test EIA yang menggunakan cairan tubuh lainnya untuk menemukan antibodi HIV. Mereka adalah
*
Test Cairan Oral. Menggunakan cairan oral (bukan saliva) yang dikumpulkan dari mulut menggunakan alat khusus. Ini adalah test antibodi EIA yang serupa dengan test darah dengan EIA. Test konformasi dengan metode Western Blot dilakukan dengan sampel yang sama.
*
Test Urine. Menggunakan urine, bukan darah. Sensitivitas dan spesifitas dari test ini adalah tidak sebaik test darah dan cairan oral. Ia juga memerlukan test konformasi dengan metode Western Blot dengan sampel urine yang sama.
Jika seorang pasien mendapatkan hasil HIV positif, itu tidak berarti bahwa pasangan hidup dia juga positif. HIV tidak harus ditransmisikan setiap kali terjadi hubungan seksual. Satu-satunya cara untuk mengetahui apakah pasangan hidup pasien tersebut mendapat HIV positif atau tidak adalah dengan melakukan test HIV terhadapnya.Test HIV selama kehamilan adalah penting, sebab terapi anti-viral dapat meningkatkan kesehatan ibu dan menurunkan kemungkinan dari wanita hamil yang HIV positif untuk menularkan HIV pada anaknya pada sebelum, selama, atau sesudah kelahiran. Terapi sebaiknya dimulai seawal mungkin pada masa kehamilan.
Di Indonesia, rumah sakit besar di ibu kota provinsi telah menyediakan fasilitas untuk test HIV/AIDS. Di Jakarta, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan Rumah sakit lain juga sudah memiliki fasilitas untuk itu. Di Bandung, RS Hasan Sadikin juga sudah memiliki fasilitas yang sama.
Diposting oleh DUTA HIV Selasa, 13 Januari 2009 di 06.21.00
Aktivis Internasional Garap Bontang
Pelatihan Relawan HIV-AIDS oleh Laras
BONTANG - Langkah menanggulangi dan menekan penyebaran HIV-AIDS di Kaltim, khususnya Bontang, bukan hanya dilakukan elemen lokal. Aktivis internasional pun “menggarap” medan di Bontang demi menyadarkan bahaya dampak penyakit mematikan itu.
Gea Westerhof, misalnya. Aktivis HIV-AIDS internasional dari International Manager Mainline Foundation, Amsterdam, itu bersedia mengisi pelatihan tenaga lapangan atau relawan HIV-AIDS selama tiga hari, 19-21 November lalu, yang digelar di Sekretariat Lembaga Advokasi dan Rehabilitasi Sosial (Laras). Pelatihan dibuka pemerhati HIV-AIDS yang juga pembina Laras dr Neni Moerniaeni SpOG.
“HIV bisa dikatakan merupakan virus yang universal. Di negara manapun di belahan dunia ini, baik itu Eropa, Amerika, Afrika, Indonesia, bahkan Bontang, yang namanya virus HIV-AIDS cara menularnya sama. Namun, meski penularannya sama, penanganan virus ini berbeda. Aspek sosial budaya, kebiasaan masyarakat hingga lingkungan, sangat berpengaruh dalam penanganan HIV-AIDS,” jelas Gea.
Menurutnya, penularan virus tidak spesifik dan bukan semata mengancam orang-orang yang biasa bekerja di lokalisasi atau panti pijat. “Setiap orang bisa tertular HIV-AIDS. Makanya, kita perlu memberikan pemahaman kepada masyarakat, bagaimana mencegah masuknya virus HIV-AIDS ke tubuh masing-masing,” katanya.
“Proteksi terhadap diri sendiri sangat penting. Dan, ini belum tentu dipahami oleh setiap individu. Tugas pekerja lapangan ataui relawan HIV-AIDS untuk menjelaskan hal itu ke masyarakat,” kata Gea yang dalam paparannya didampingi penerjemah Yesi.
Dalam pelatihan dengan pola Focus Group Discussion itu, Gea berupaya mengajak peserta untuk mencari formula atau pola dan metode yang tepat dalam menyampaikan masalah HIV-AIDS ke masyarakat. Khususnya, kepada mereka yang tergolong rentan terinfeksi.
“Pekerja lapangan harus bisa memahami kondisi dan situasi di lokasi. Untuk menjelaskan ke masyarakat agar mereka terhindar dari penularan HIV, perlu metode yang tepat. Pekerja lapangan harus bisa mendengar dan berbicara dengan klien dengan tepat. Selain itu, peralatan yang digunakan dalam bekerja, juga harus bisa diterima oleh klien,” terang Gea.
Dijelaskan Gea, di negara berkembang, masyarakatnya lebih rentan terinfeksi HIV. Dan setiap negara, mempunyai sistem dan metode berbeda dalam menekan penyebarannya.
“Di Kenya–Afrika, informasi HIV-AIDS disampaikan lewat berbagai cara. Bahkan anak-anak diajari lagu-lagu khusus yang berisi pesan-pesan bahaya HIV-AIDS. Mereka juga melibatkan tokoh spiritual untuk memberi pemahaman akan bahaya HIV dan cara menghindarinya. Sedangkan di Selandia Baru, pencegahan HIV-AIDS dilakukan lewat edukasi kondom. Bahkan di negara tersebut, disebarkan kotak 400 ribu kotak yang berisi peralatan untuk pencegahan HIV-AIDS,” lanjut Gea seraya memperlihatkan film dokumenter penanganan HIV-AIDS di beberapa negara. pelatihan ini juga di hadiri oleh 20 finalis duta HIV kota bontang 2008, namun senarnya sudah buklan 20 nya finalis karna pada 26/10/08 sudah ada pemenangnya tapi biar g' ada ya d kecilkan jdi qta d panggilnya 20 duta HIV Kota Bontang 2008, dan juga d hadiri oleh 20 finalis duta remaja.......
Acquired Immunodeficiency Syndrome atau Acquired Immune Deficiency Syndrome (disingkat AIDS) adalah sekumpulan gejala dan infeksi (atau: sindrom) yang timbul karena rusaknya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV;[1] atau infeksi virus-virus lain yang mirip yang menyerang spesies lainnya (SIV, FIV, dan lain-lain).
Virusnya sendiri bernama Human Immunodeficiency Virus (atau disingkat HIV) yaitu virus yang memperlemah kekebalan pada tubuh manusia. Orang yang terkena virus ini akan menjadi rentan terhadap infeksi oportunistik ataupun mudah terkena tumor. Meskipun penanganan yang telah ada dapat memperlambat laju perkembangan virus, namun penyakit ini belum benar-benar bisa disembuhkan.
HIV dan virus-virus sejenisnya umumnya ditularkan melalui kontak langsung antara lapisan kulit dalam (membran mukosa) atau aliran darah, dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, air mani, cairan vagina, cairan preseminal, dan air susu ibu.[2][3] Penularan dapat terjadi melalui hubungan intim (vaginal, anal, ataupun oral), transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi, antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin, atau menyusui, serta bentuk kontak lainnya dengan cairan-cairan tubuh tersebut.
Para ilmuwan umumnya berpendapat bahwa AIDS berasal dari Afrika Sub-Sahara.[4] Kini AIDS telah menjadi wabah penyakit. AIDS diperkiraan telah menginfeksi 38,6 juta orang di seluruh dunia.[5] Pada Januari 2006, UNAIDS bekerja sama dengan WHO memperkirakan bahwa AIDS telah menyebabkan kematian lebih dari 25 juta orang sejak pertama kali diakui pada tanggal 5 Juni 1981. Dengan demikian, penyakit ini merupakan salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah. AIDS diklaim telah menyebabkan kematian sebanyak 2,4 hingga 3,3 juta jiwa pada tahun 2005 saja, dan lebih dari 570.000 jiwa di antaranya adalah anak-anak.[5] Sepertiga dari jumlah kematian ini terjadi di Afrika Sub-Sahara, sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi dan menghancurkan kekuatan sumber daya manusia di sana. Perawatan antiretrovirus sesungguhnya dapat mengurangi tingkat kematian dan parahnya infeksi HIV, namun akses terhadap pengobatan tersebut tidak tersedia di semua negara.[6]
Hukuman sosial bagi penderita HIV/AIDS, umumnya lebih berat bila dibandingkan dengan penderita penyakit mematikan lainnya. Terkadang hukuman sosial tersebut juga turut tertimpakan kepada petugas kesehatan atau sukarelawan, yang terlibat dalam merawat orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA).
Diposting oleh DUTA HIV Senin, 15 Desember 2008 di 05.09.00
Bahasa Indonesia Ditolak, Jawab Bahasa Inggris Terbata-bata
Yang Tersisa Dari Pemilihan Duta HIV-AIDS
Pemilihan Duta HIV-AIDS Tahun 2008 yang diselenggarakan Pemkot bekerjasama dengan Komisi Penanggulangan HIV-AIDS, ternyata mendapat tanggapan positif. Bukan hanya dari kalangan pelajar, tapi juga orang tua siswa. Terbukti, panitia mendapat telepon dari sejumlah orang tua yang menginginkan anaknya mengikuti pemilihan.
DALAM menjaring peserta, panitia melayangkan surat ke seluruh SMP dan SMA untuk mengirimkan wakilnya dalam ajang tahunan itu. Awalnya, panitia hanya memprediksi jumlah peserta berkisar 20-30 orang saja. Terlebih jika mengingat batasan usia dan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh setiap peserta. Antara lain, usia 13-18 tahun dan harus bisa berbahasa Inggris aktif.
“Ternyata banyak yang berminat. Banyak orang tua siswa yang menghubungi panitia menanyakan kemungkinan putranya bisa mengikuti seleksi Duta HIV. Soalnya undangan yang kami kirimkan hanya meminta 2 perwakilan dari masing-masing sekolah. Makanya kami sampaikan, silakan putranya ikut, asal mendapat rekomendasi dari sekolah masing-masing,” tutur Ketua KPAD drg WH Agustini.
Setelah melewati seleksi berkas, akhirnya seleksi awal berupa tes tertulis, wawancara, dan presentasi digelar di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota. Berbagai pertanyaan dilontarkan dewan juri kepada peserta yang telah mempresentasikan pengetahuannya seputar HIV-AIDS.
Dalam tahap tersebut, peserta juga diuji kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Beberapa peserta terlihat dengan fasih menjawab pertanyaan berbahasa Inggris. Namun, ada juga beberapa peserta yang “blank” dan meminta diberi kesempatan untuk menjawab pertanyaan dalam bahasa Indonesia. “Maaf, saya bisa menjawab dalam bahasa Indonesia?” pinta salah seorang peserta.
Sayang, permintaan tersebut ditolak dewan juri. Sebab, dari awal seleksi, salah satu persyaratan yang harus dipenuhi peserta adalah bisa berbahasa Inggris aktif. Terpaksalah, dengan terbata-bata peserta tersebut menjawab pertanyaan. Kalimat yang terlontar pun akhirnya menjadi kalimat gado-gado, alias bahasa Inggris campur bahasa Indonesia.
Setelah melalui tes tertulis, wawancara dan presentasi, akhirnya terpilih 21 finalis yang dinyatakan lolos ke grand final dan diwajibkan masuk karantina untuk mendapatkan pembekalan, sebelum bertarung di babak grand final. Sebelumnya, dewan juri dan panitia juga sempat bersitegang, karena kuota yang disiapkan untuk masa karantina hanya 20 orang. Sementara, dewan juri menetapkan satu peserta lagi, yang berhak mendapat kesempatan untuk mengikuti masa karantina. Untunglah, masalah tersebut bisa segera diatasi. Bahkan pemerhati HIV-AIDS Neni Moerniaeni yang mendukung penuh acara tersebut, menawarkan kesempatan bagi semua peserta yang masuk 30 besar untuk mengikuti masa karantina.
Dalam masa karantina yang berlangsung selama 3 hari itu, panitia memberikan pembekalan kepada calon Duta HIV-AIDS. Materinya bukan hanya tentang pengetahuan seputar HIV-AIDS, tapi juga kepribadian, publik speaking dan juga jurnalistik. Peserta juga dilatih dalam hal kekompakan.
Masa karantina yang diisi berbagai materi, ternyata sangat bermanfaat bagi peserta. Dalam waktu yang singkat itu, panitia berhasil membuat peserta lebih kompak dan percaya diri.
Itu terlihat saat malam grand final yang berlangsung Sabtu (25/10) di Gedung Aini Rasyifa. Satu per satu peserta terlihat begitu percaya diri tampil ke atas panggung mengenalkan diri masing-masing. Bahkan, saat nama-nama pemenang Duta HIV-AIDS dibacakan, peserta lainnya langsung berhambur memeluk dan memberikan ucapan selamat kepada mereka yang berhasil terpilih sebagai Duta HIV-AIDS. Hingga acara selesai, peserta dan panitia terlihat masih asyik bercengkrrama. Beberapa diantaranya mengabadikan momen tersebut lewat kamera handphone.
“Terasa sekali kekompakannya. Yang kompak bukan hanya peserta, tapi juga panitia. Sejak masuk karantina, kebersamaan teras banget. Alhamdulillah, acaranya berlangsung sukses," tutur Ramlah, salah seorang panitia Pemilihan Duta HIV-AIDS. 20 besar duta Hiv 2008 adalah:
katagori putri
ARESTIA TANTRIANI
ANISSA ZASKIA PUTRI
ANZALA AZIMA
ANGGRAENI PRATIWI
MIFTAKHUL KHASANAH
MARDIYAHIYAH HUURIIN H. P
RIRI CHAIRYAH
VHENY ALVIONITA
INDRI PRIMADIYANTI
NURINTAN SEKARSARI
KATEGORI PUTRA:
DHANIE NUR CAHYA
ASNA ARFI ROUF HIDAYAT
SETYA BAGUS PRADITA
BIMI PANJI KUMORO
EGIA KAMANDIKA
NOVRY TOMMY LEONARDO ( ME )
MUFLI ALHAFIDY
ANDI BUDRAH SADAM
SEPTIAN ARIF JATMIKO
KEVIN PAMI PRADANA
Diposting oleh DUTA HIV Selasa, 09 Desember 2008 di 05.20.00
Miftahul dan Kevin Duta HIV
Bagi Brosur ke Sekolah, Ada yang Janji Tutup Lokalisasi
BONTANG - Kevin Pami Pradana dan Miftahul Hasanah dinobatkan sebagai Duta HIV-AIDS Bontang Tahun 2008. Keduanya berhak membawa Piala Bergilir Wali Kota, trofi, hadiah uang tunai, dan kesempatan melanjutkan pendidikan ke Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman tanpa melalui proses seleksi.
Dalam malam grand final di Gedung Aini Rasyifa Tanjung Laut, Sabtu (25/10) tadi, ke-20 finalis tampil di atas panggung dengan menggunakan pakaian kreasi masing-masing. Sebelumnya lomba diawali penampilan band remaja, dilanjutkan dancer dari siswa SMU.
”Pemilihan Duta HIV-AIDS akan menjadi agenda tahunan Pemkot dan Komisi Penanggulangan HIV-AIDS (KPAD) Bontang. Ini merupakan salah satu program Pemkot dan KPAD untuk mencegah dan menanggulangi penyebaran HIV-AIDS, khususnya di kalangan remaja,” ujar Ketua Panitia Pelaksana, drg Maena Arifin.
Ke-20 finalis telah melewati masa karantina selama 3 hari. Tapi, mereka kembali melewati seleksi dari dewan juri dan panitia. Para finalis bukan hanya dinilai dari segi intelektualitas, tapi juga kepribadian dan wawasan. Salah satu poin penting yang juga menjadi penilaian dewan juri adalah, kemampuan para finalis dalam berbahasa Inggris.
”Tolong panitia, pertanyaan yang diajukan dewan juri, dijawab dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia,” ujar pemerhati HIV-AIDS Neni Moerniaeni, salah satu dewan juri.
Mendengar permintaan tersebut, master of ceremony (MC) yang memandu acara kemudian membacakan pertanyaan yang telah disiapkan dewan juri dalam dua bahasa. Putri, peserta pertama yang masuk 10 besar dan sebelumnya hanya menjawab pertanyaan dalam bahasa Indonesia, diminta kembali melengkapi jawabannya dengan jawaban dalam bahasa Inggris.
”Karena dewan juri meminta jawaban dalam bahasa Inggris, maka finalis yang tadi telah menjawab pertanyaan dalam bahasa Indonesia, kami minta kembali tampil ke depan untuk memberikan jawaban dalam bahasa Inggris,” ujar Intan yang bertindak sebagai MC.
Setelah 10 finalis menjawab pertanyaan yang dibacakan, akhirnya dewan juri menetapkan 6 finalis yang berhak memperebutkan posisi sebagai Duta HIV.
Di babak ini, peserta kembali diuji kemampuannya intelektualnya dalam bidang HIV-AIDS. Pertanyaan pun langsung diajukan dewan juri. ”Apa yang kamu lakukan jika kamu terpilih sebagai duta HIV?” ucap salah seorang dewan juri.
Meski semua peserta sudah pernah mempresentasikan program yang akan dilakukan jika terpilih sebagai duta HIV-AIDS, namun ternyata pertanyaan sederhana itu, membuat beberapa peserta terlihat bingung.
”Kalau saya terpilih, mulai besok hingga tiga bulan ke depan, saya akan mulai melakukan sosialisasi. Saya akan membuat leaflet dan brosur yang berisi tentang bahaya HIV-AIDS dan membagikannya ke sekolah-sekolah dan lingkungan sekitar saya. Tentu saja, saya akan melibatkan seluruh teman-teman saya, para finalis duta HIV-AIDS,” ujar Miftahul Hasanah, finalis dari SMU Negeri 2 Bontang.
Wali Kota Sofyan Hasdam yang hadir dalam kesempatan tersebut, juga mendapat kehormatan untuk memberikan satu pertanyaan kepada salah satu finalis putra. ”Jika kamu menjadi Wali Kota, apa yang kamu lakukan untuk mencegah HIV-AIDS,” tanya Sofyan.
Finalis yang mendapat pertanyaan tersebut, terlihat berpikir sejenak, sebelum akhirnya menjawab. ”Saya akan menutup lokalisasi,” kata Jatmiko, mantap.
hasil pemilihan duta HIV: