get in ready...
hiv/aids amdassador 3th waiting for you...
prepare your self....
save your life.... HIV /AIDS MUSUH BERSAMA, DUTA HIV TEMAN SETIA....
Diposting oleh DUTA HIV Jumat, 24 September 2010 di 07.02.00
get in ready...
hiv/aids amdassador 3th waiting for you...
prepare your self....
Diposting oleh DUTA HIV Jumat, 17 September 2010 di 07.02.00
Tanggal: Friday, 17 September 2010
Topik: HIV/AIDS
REPUBLIKA.CO.ID, 15 September 2010
PADANG--Sebanyak 21.770 kasus AIDS terjadi di seluruh kota/kabupaten di Indonesia sehingga memerlukan upaya penanggulangan dan penanganan secara cepat. "Kasus AIDS yang terjadi di seluruh kabupaten/kota di Indonesia itu dihitung hingga 30 Juni 2010," kata Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih di Padang, Rabu.
Menurut dia, rata-rata penderita AIDS tersebut berusia 20 tahun hingga 29 tahun, yaitu mencapai 37,2 persen. "Sedangkan penderita AIDS yang berusia 40 hingga 49 tahun hanya 11,8 persen," katanya.
Dia menambahkan, dari 21.770 kasus AIDS di Indonesia tersebut, jumlah perbandingan penderita AIDS laki-laki dan perempuan sebesar tiga berbanding satu. "Sudah ada pergeseran pola penyebaran, kini penyebaran terbesar terjadi lewat hubungan seks, bukan lagi penggunaan jarum suntik," ujarnya.
Dia mengatakan, jumlah penderita AIDS dari seluruh Indonesia yang terbanyak di Provinsi Papua, diikuti Bali, kemudian DKI Jakarta. "Sedangkan penderita HIV didominasi DKI Jakarta mencapai 9.804 orang, kemudian Jawa Timur mencapai 5.973 orang,"katanya.
Dia menambahkan, penyadaran dan pendampingan terhadap penderita HIV/AIDS perlu terus ditingkatkan agar jumlah mereka dapat diminimalkan. "Minimal dapat memberikan konseling dan bimbingan pada mereka tentang pentingnya kesadaran untuk berobat secara teratur dan menyebarkan hal itu kepada penderita lainnya," katanya.
Kepala Dinas Kesehatan Sumbar Rosnini Savitri di Padang, mengatakan, sampai sekarang tercatat 496 kasus di Sumbar, yang terdiri atas 72 kasus HIV dan 424 AIDS. "Sebanyak 75 orang meninggal dunia akibat penyakit HIV/AIDS di Sumbar," katanya.
Untuk mengantisipasi dini kasus HIV/AIDS, lanjut Rosnini Savitri, Dinkes Sumbar terus meningkatkan koordinasi dengan kabupaten/kota dan membentuk tim konselor sehingga melalui tim konselor, warga yang dicurigai terjangkit penyakit menular yang mematikan itu bisa berkonsultasi. "Sejak tim konselor dibentuk pada 19 kabupaten/kota sudah banyak warga yang datang untuk berkonsultasi sehingga kasus HIV/AIDS di Sumbar bisa terungkap," kata Rosnini Savitri.
Dia menambahkan, untuk mengetahui seseorang terjangkit atau tidak penyakit AIDS, ada dua klinik Voluntary Counseling and Testing (VCT). "Dua klinik itu berada di RSUP M. Djamil Padang serta RS Ahmad Mukhtar Kota Bukittinggi," katanya.
Sumber: Republika.co.id
Diposting oleh DUTA HIV di 06.49.00
Tanggal: Friday, 17 September 2010
Topik: HIV/AIDS
ANTARA News, 16 September 2010
Padang - Ledakan kasus AIDS di Indonesia perlu penanganan serta penanggulangan lebih serius dari berbagi pihak.
"Terjadinya ledakan kasus AIDS di seluruh kota/kabupaten di Indonesia saat ini perlu ditangani lebih serius lagi," kata Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, di Padang, Rabu.
Menurut dia, saat ini sebanyak 21.770 kasus AIDS terjadi di seluruh kota/kabupaten Indonesia. Kasus tersebut merupakan ancaman yang sangat serius.
"Kasus AIDS yang terjadi di seluruh kota/Kabupaten di Indonesia sebanyak itu dihitung hingga 30 Juni 2010," katanya.
Dia menambahkan, rata-rata penderita kasus AIDS tersebut berusia 20 tahun hingga 29 tahun mencapai 37,2 persen.
"Sedangkan penderita AIDS yang berusia 40 hingga 49 tahun hanya mencapai 11,8 persen saja,"katanya.
Dia mengatakan, dari kasus AIDS tersebut, jumlah perbandingan penderita AIDS laki-laki dan perempuan sebesar tiga berbanding satu.
"Saat ini sudah ada pergeseran pola penyebaran AIDS, penyebaran terbesar terjadi lewat hubungan seks, bukan lagi jarum suntik," katanya.
Menurutnya, jumlah penderita AIDS dari seluruh Indonesia yang terbanyak di Provinsi Papua diikuti daerah Bali, kemudian DKI Jakarta.
"Sedangkan penderita HIV yang dominan yakni DKI Jakarta mencapai 9.804, Jawa Timur mencapai 5.973,"katanya.
Dia menambahkan, penyadaran dan pendampingan terhadap penderita HIV/AIDS perlu terus ditingkatkan, agar jumlah mereka dapat diminimalkan.
"Minimal kita dapat memberikan konseling dan bimbingan terhadap mereka tentang pentingnya kesadaran untuk mau berobat secara teratur, dan menyebarkan hal itu kepada penderita lainnya," katanya. (ANT-031/K004)
Sumber: Antaranews.com
Diposting oleh DUTA HIV Minggu, 16 Agustus 2009 di 23.13.00
Nusa Dua ( Berita ) : Di Indonesia kini di-estimasikan terdapat sekitar 270.000 orang yang hidup dengan HIV/AIDS atau Odha, dan tingkat penyebarannya pada kaum perempuan meningkat lebih cepat dibandingkan tingkat infeksi baru pada laki-laki.
“Estimasi tersebut juga didasarkan data tahun 2007, yang memperkirakan Odha di Asia mencapai sekitar lima juta jiwa,” kata Deputi Bidang Peningkatan Kualitas Hidup Perempuan, Dra. Setiawati J. Arifin, MSc, yang berbicara atas nama Menteri Pemberdayaan Perempuan Prof Dr. Meutia Hatta Swasono di Nusa Dua, Bali, Senin [03/08].
Hal itu disampaikan pada pembukaan pelatihan asosiasi perempuan muda Kristiani yang diikuti 90 pemimpin perempuan mewakili 24 asosiasi perempuan muda “Young Womans Christian Association-YWCA” dari berbagai negara di kawasan Asia Pasifik yang berlangsung 2-7 Agustus 2009.
Pelatihan dengan tema komunitas penyelamat wanita usia subur, “Women Creating Safe and Secure Communities” itu, bertujuan mengeksplorasi isu-isu kekerasan terhadap perempuan, kesehatan dan hak seksual, reporoduksi perempuan, HIV dan AIDS serta migrasi dan perubahan iklim.
Tamu penting lainnya pada kegiatan tersebut yaitu presiden YWCA dunia Susan Brenann dari Australia, Sekretaris YWCA dunia, Nyaradzayi Gumbonzvanda dari Zimbabwe dan presiden YWCA Indonesia, Theresia Helena Rooroh.
Menurut Setiawati, di sejumlah negara di Asia Timur dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, tingkat penyebaran infeksi baru pada perempuan meningkat lebih cepat dibandingkan tingkat infeksi baru pada laki-laki, sesuai laporan UNAIDS tahun 2008.
“Berdasarkan berbagai data dan estimasi, mengindikasikan bahwa saat ini di Indonesia terdapat sekitar 270,000 Odha. Ini menjadi pekerjaan kita semua untuk turut mengatasinya, apalagi bagi kaum perempuan yang lebih mudah tertular,” ucapnya.
Disebutkan bahwa kekerasan terhadap perempuan juga terus-menerus menjadi penghalang utama penegakan hak asasi perempuan, perdamaian dan pembangunan di kawasan Asia dan Pasifik. Bentuk-bentuk kekerasan antara lain pembunuhan bayi perempuan, perdagangan perempuan, prostitusi paksa, kekerasan berbasis mas kawin, kekerasan dalam rumah tangga dan perkosaan dalam perkawinan.
Laporan terkini yang dipublikasikan divisi pengembangan perempuan, bekerjasama dengan UNICEF, menyebutkan bahwa di negara-negara pasifik, perkosaan anak perempuan sering tidak dilaporkan khususnya bila dilakukan oleh anggota keluarga.
“Hal itu terjadi hanya demi menghindari rasa malu keluarga, padahal yang lebih penting bagaimana mencegah dan menangani korban,” kata Setiawati seraya menjelaskan, bahwa dari sekitar 850 juta kaum muda dunia berusia 10-24 tahun, kini lebih dari separuhnya hidup di kawasan Asia dan Pasifik.
Pelatihan itu juga mengakomodir dialog pemimpin-pemimpin perempuan muda di bawah 30 tahun, guna mendiskusikan isu-isu kekerasan terhadap perempuan, kesehatan dan hak seksual serta reporoduksi, maupun masalah HIV/AIDS di kawasan ini.
Sementara Sekretaris Jendral YWCA dunia, Nyaradzayi Gumbonzvanda mengatakan, pelatihan di Asia dan Pasifik membawa YWCA dari dua kawasan diperhadapkan pada isu-isu spesifik seperti bencana alam dan migrasi. Persinggungan perubahan iklim, gender dan kekerasan, menuntut adanya perhatian khusus dari organisasi berbasis komunitas seperti YWCA.
“Saya tidak sabar untuk mendapatkan banyak pengetahuan mengenai isu-isu terkini yang dihadapi perempuan di kawasan ini. Bagi kami, pelatihan ini penting untuk menyusun rencana aksi regional yang merespon HIV/AIDS, kesehatan dan hak seksual serta reproduksi, maupun kekerasan terhadap perempuan di kawasan Asia Pasifik,” ucapnya.
YWCA dunia merupakan sebuah jaringan global perempuan yang memimpin untuk perubahan sosial dan ekonomi di lebih dari 125 negara. Asosiasi ini melakukan advokasi terhadap perdamaian, keadilan, kesehatan, martabat manusia, kebebasan dan kepedulian terhadap lingkungan. Sejak didirikan pada tahun 1855, YWCA Dunia telah berada di garis depan dalam meningkatkan status perempuan. (ant )
sumber : Harian Berita Sore
Diposting oleh DUTA HIV di 22.58.00
Jakarta, Kompas - Tahanan/narapidana kasus narkotika berpotensi mengidap penyakit HIV/AIDS. Hingga kini dari sekitar 40.000 tahanan/narapidana kasus narkotika yang menghuni rumah tahanan/lembaga pemasyarakatan di seluruh Indonesia, sebanyak 50 persen di antaranya berpotensi mengidap penyakit HIV dan AIDS.
”Ini sebuah angka yang cukup tinggi. Apalagi 90 persen dari tahanan dan narapidana narkotika sebagian besar berusia produktif,” ujar Menteri Hukum dan HAM Andi Mattalatta, Kamis (31/7), seusai penandatanganan nota kesepahaman antara Komisi Penanggulangan AIDS Nasional dan Direktur Jenderal Pemasyarakatan Departemen Hukum dan HAM.
MOU yang ditandatangani Andi Mattalatta dan Sekretaris KPAN Nafsiah Mboi adalah dalam rangka mempercepat upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS yang lebih komprehensif.
Lewat MOU ini kedua lembaga memperkuat komitmen bersama, dalam memanfaatkan dana hibah yang diberikan Global Fund for AIDS, Tuberculosis, and Malaria, untuk penanggulangan AIDS di 72 rutan/lapas yang telah ditentukan Dephukham. GF-ATM adalah lembaga yang didirikan delapan negara tahun 2002 dan diinisiasi Kofi Annan (saat itu Sekjen PBB) untuk memerangi penyakit pembunuh utama rakyat miskin (AIDS, tuberkulosis, dan malaria) di negara-negara berkembang.
Dukungan dana sebesar Rp 9,349 miliar itu untuk mendukung kegiatan pendidikan pencegahan HIV, penyediaan kondom dan pemutih, informasi pre-release dan rujukan kepada perawatan dan pengobatan, serta penguatan kapasitas/pelatihan untuk petugas kesehatan di lapas/rutan tentang pencegahan dan pengobatan.
Andi berterima kasih atas dukungan dana tersebut mengingat angka penghuni rutan/lapas yang berpotensi terkena penyakit HIV/AIDS sangat besar.
”Mungkin ada yang berusia di bawah 18 tahun. Tahanan dan narapidana narkotika tidak ada yang berusia 70 tahun. Umumnya berusia antara 18 tahun hingga paling tinggi 50 tahun. Kalau kita biarkan penyakit ini, mereka akan menjadi manusia tidak berguna,” ujar Andi.
Ditanya jumlah penghuni rutan/lapas yang benar-benar mengidap penyakit HIV/AIDS, Andi menegaskan, hingga kini pihaknya tidak bisa mendeteksi karena banyak penghuni yang menyembunyikan jika terkena penyakit tersebut.
Pada bagian lain Menteri Hukum dan HAM juga mengakui rentannya penghuni rutan/lapas terkena penyakit yang mematikan tersebut karena rutan/lapas di seluruh Tanah Air kelebihan kapasitas. Rutan/lapas hanya bisa menampung sebanyak 80.000 orang, tetapi kondisi sekarang penghuni rutan/lapas telah mencapai 130.000 orang. ”Terjadi kelebihan sebanyak 60 persen,” ujarnya.
Sementara itu, jumlah petugas rutan/lapas juga tidak seimbang. Saat ini persentase petugas dan penghuni 1:25. Karena kelebihan kapasitas, lanjut Andi, tidak mengherankan, narapidana/tahanan lebih lihai ketimbang petugas rutan/lapas. (SON)
Sumber: Kompas
Diposting oleh DUTA HIV Selasa, 07 April 2009 di 19.00.00
MOHON MAAF DI TUJUKAN KEPADA PENGUNJUNG BLOG INI. UNTUK SEMENTARA INI BLOG INI DALAM MASA PERBAIKAN.... TERIMA KASIH, atas KEMALKUMAM PENGUNJUNG.....
Diposting oleh DUTA HIV Minggu, 25 Januari 2009 di 04.22.00
Sampai kini, mendengar kata HIV/AIDS seperti momok yang mengerikan. Padahal jika dipahami secara logis, HIV/AIDS bisa dengan mudah dihindari. Bagaimana itu?
Prevalensi HIV/AIDS di Indonesia telah bergerak dengan laju yang sangat mengkhawatirkan. Pada tahun 1987, kasus HIV/AIDS ditemukan untuk pertama kalinya hanya di Pulau Bali. Sementara sekarang (2007), hampir semua provinsi di Indonesia sudah ditemukan kasus HIV/AIDS.
Permasalahan HIV/AIDS telah sejak lama menjadi isu bersama yang terus menyedot perhatian berbagai kalangan, terutama sektor kesehatan. Namun sesungguhnya masih banyak informasi dan pemahaman tentang permasalahan kesehatan ini yang masih belum diketahui lebih jauh oleh masyarakat.
HIV adalah virus penyebab AIDS. HIV terdapat dalam cairan tubuh seseorang seperti darah, cairan kelamin (air mani atau cairan vagina yang telah terinfeksi) dan air susu ibu yang telah terinfeksi. Sedangkan AIDS adalah sindrom menurunnya kekebalan tubuh yang disebabkan oleh HIV. Orang yang mengidap AIDS amat mudah tertular oleh berbagai macam penyakit karena sistem kekebalan tubuh penderita telah menurun.HIV dapat menular ke orang lain melalui :
* Hubungan seksual (anal, oral, vaginal) yang tidak terlindungi (tanpa kondom) dengan orang yang telah terinfeksi HIV.
* Jarum suntik/tindik/tato yang tidak steril dan dipakai bergantian
* Mendapatkan transfusi darah yang mengandung virus HIV
* Ibu penderita HIV Positif kepada bayinya ketika dalam kandungan, saat melahirkan atau melalui air susu ibu (ASI)
Penularan
HIV tidak ditularkan melalui hubungan sosial yang biasa seperti jabatan tangan, bersentuhan, berciuman biasa, berpelukan, penggunaan peralatan makan dan minum, gigitan nyamuk, kolam renang, penggunaan kamar mandi atau WC/Jamban yang sama atau tinggal serumah bersama Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). ODHA yaitu pengidap HIV atau AIDS. Sedangkan OHIDA (Orang hidup dengan HIV atau AIDS) yakni keluarga (anak, istri, suami, ayah, ibu) atau teman-teman pengidap HIV atau AIDS.
Lebih dari 80% infeksi HIV diderita oleh kelompok usia produktif terutama laki-laki, tetapi proporsi penderita HIV perempuan cenderung meningkat. Infeksi pada bayi dan anak, 90 % terjadi dari Ibu pengidap HIV. Hingga beberapa tahun, seorang pengidap HIV tidak menunjukkan gejala-gejala klinis tertular HIV, namun demikian orang tersebut dapat menularkan kepada orang lain. Setelah itu, AIDS mulai berkembang dan menunjukkan tanda-tanda atau gejala-gejala.Tanda-tanda klinis penderita AIDS :
1. Berat badan menurun lebih dari 10 % dalam 1 bulan
2. Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
3. Demam berkepanjangan lebih dari1 bulan
4. Penurunan kesadaran dan gangguan-gangguan neurologis
5. Dimensia/HIV ensefalopati
Gejala minor :
1. Batuk menetap lebih dari 1 bulan
2. Dermatitis generalisata yang gatal
3. Adanya Herpes zoster multisegmental dan berulang
4. Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita
HIV dan AIDS dapat menyerang siapa saja. Namun pada kelompok rawan mempunyai risiko besar tertular HIV penyebab AIDS, yaitu :
1. Orang yang berperilaku seksual dengan berganti-ganti pasangan tanpa menggunakan kondom
2. Pengguna narkoba suntik yang menggunakan jarum suntik secara bersama-sama
3. Pasangan seksual pengguna narkoba suntik
4. Bayi yang ibunya positif HIV
HIV dapat dicegah dengan memutus rantai penularan, yaitu ; menggunakan kondom pada setiap hubungan seks berisiko,tidak menggunakan jarum suntik secara bersam-sama, dan sedapat mungkin tidak memberi ASI pada anak bila ibu positif HIV. Sampai saat ini belum ada obat yang dapat mengobati AIDS, tetapi yang ada adalah obat untuk menekan perkembangan virus HIV sehingga kualitas hidup ODHA tersebut meningkat. Obat ini harus diminum sepanjang hidup.
Skrining Dengan Teknologi Modern
Sebagian besar test HIV adalah test antibodi yang mengukur antibodi yang dibuat tubuh untuk melawan HIV. Ia memerlukan waktu bagi sistim imun untuk memproduksi antibodi yang cukup untuk dideteksi oleh test antibodi. Periode waktu ini dapat bervariasi antara satu orang dengan orang lainnya. Periode ini biasa diseput sebagai ‘periode jendela’. Sebagian besar orang akan mengembangkan antibodi yang dapat dideteksi dalam waktu 2 sampai 8 minggu. Bagaimanapun, terdapat kemungkinan bahwa beberapa individu akan memerlukan waktu lebih lama untuk mengembangkan antibodi yang dapat terdeteksi. Maka, jika test HIV awal negatif dilakukan dalam waktu 3 bulan setelah kemungkinan pemaparan kuman, test ulang harus dilakukan sekitar 3 bulan kemudian, untuk menghindari kemungkinan hasil negatif palsu. 97% manusia akan mengembangkan antibodi pada 3 bulan pertama setelah infeksi HIV terjadi. Pada kasus yang sangat langka, akan diperlukan 6 bulan untuk mengembangkan antibodi terhadap HIV.
Tipe test yang lain adalah test RNA, yang dapat mendeteksi HIV secara langsung. Waktu antara infeksi HIV dan deteksi RNA adalah antara 9-11 hari. Test ini, yang lebih mahal dan digunakan lebih jarang daripada test antibodi, telah digunakan di beberapa daerah di Amerika Serikat.
Dalam sebagian besar kasus, EIA (enzyme immunoassay) digunakan pada sampel darah yang diambil dari vena, adalah test skrining yang paling umum untuk mendeteksi antibodi HIV. EIA positif (reaktif) harus digunakan dengan test konformasi seperti Western Blot untuk memastikan diagnosis positif. Ada beberapa tipe test EIA yang menggunakan cairan tubuh lainnya untuk menemukan antibodi HIV. Mereka adalah
*
Test Cairan Oral. Menggunakan cairan oral (bukan saliva) yang dikumpulkan dari mulut menggunakan alat khusus. Ini adalah test antibodi EIA yang serupa dengan test darah dengan EIA. Test konformasi dengan metode Western Blot dilakukan dengan sampel yang sama.
*
Test Urine. Menggunakan urine, bukan darah. Sensitivitas dan spesifitas dari test ini adalah tidak sebaik test darah dan cairan oral. Ia juga memerlukan test konformasi dengan metode Western Blot dengan sampel urine yang sama.
Jika seorang pasien mendapatkan hasil HIV positif, itu tidak berarti bahwa pasangan hidup dia juga positif. HIV tidak harus ditransmisikan setiap kali terjadi hubungan seksual. Satu-satunya cara untuk mengetahui apakah pasangan hidup pasien tersebut mendapat HIV positif atau tidak adalah dengan melakukan test HIV terhadapnya.Test HIV selama kehamilan adalah penting, sebab terapi anti-viral dapat meningkatkan kesehatan ibu dan menurunkan kemungkinan dari wanita hamil yang HIV positif untuk menularkan HIV pada anaknya pada sebelum, selama, atau sesudah kelahiran. Terapi sebaiknya dimulai seawal mungkin pada masa kehamilan.
Di Indonesia, rumah sakit besar di ibu kota provinsi telah menyediakan fasilitas untuk test HIV/AIDS. Di Jakarta, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan Rumah sakit lain juga sudah memiliki fasilitas untuk itu. Di Bandung, RS Hasan Sadikin juga sudah memiliki fasilitas yang sama.